Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

 

Ikhwahfillah rahimakumullah, hidup ini adalah sebuah jalan dimana kita akan dihadapkan oleh banyaknya tantangan dan godaan terhadap tauhid kita. Manusia diciptakan dengan penuh kelalaian lagi kehinaan. Ia bersimpul dalam diri kita. Mengakar kuat dalam ulu hati. Manusia-manusia Rabbani yang menjadikan tauhid sebagai esensi dalam dirinya kemudian harus sadar bahwa hanya kepadaNyalah kelemahan itu akan tertutupi jika kita senantiasa berpegang kepada tali buhul yang tak akan putus, yakni tali tauhid untuk hanya mengamba di jalan Allahuta’la.

Ikhwahfilah rahimakumullah, Asy Syahid Sayyid Quthb pernah menggariskan, bahwa dakwah pasti akan mengalami benturan, dimana kekuatan Al Haqq akan berkonfrontasi dengan Al Bathil. Di sini, Islam tidak bisa mengambil jalan damai, meletakkan Kebenaran untuk berkompromi dg kebathilan. Memadukan thesa dan anthithesa antara Islam dengan kejahiliyahan. Simpul-simpul Rabbani itu justru akan menguat seiring Islam lebih memilih untuk tunduk di jalan Kemuliaan, dan mengacuhkan nikmat hina-dina itu.

Fitnah kemenangan akhir zaman inilah yang mesti betul-betul diwaspadai oleh aktifis dakwah. Ia sesuai dengan bagaimana Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya di kalangan kamu nanti akan tertanam kemauan besar kedudukan (politik) dalam kerajaan. Sesungguhnya yang demikian itu akan menjadikan kamu menyesal dan susah pada Hari Kiamat; Sebaik-baik ibu adalah yang mau menyusui anak (artinya sebaik-baik pemimpin adalah yang memperhatikan kepentingan rakyat), dan seburuk-buruk ibu adalah ibu yang tidak mau menyusui anaknya (artinya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang tidak memerhatikan kepentingan rakyat). (Riwayat Bukhari dan Nasa’i).

Ikhwah fillah, tulisan ini lahir dari sebuah perenungan Asy Syahid, tentang cobaan dakwah yang akan senantiasa melingkupi tiap diri kita. Sebuah diri yang menasbihkan semata-mata mengabdikan hidup kepada Allahuta’ala meski kemenangan seakan-akan sudah di depan mata.

Dalam surat wasiat [1] untuk adiknya, Aminah Quthub, Asy Syahid Sayyid Quthb Rahimakumullah menulis :

“Sulit bagi saya  membayangkan bagaimana mungkin kita akan sampai pada tujuan mulia dengan menggunakan wasilah (alat bantu/perantaraan) yang kotor. Tujuan yang mulia hanya akan hidup di dalam hati nurani yang mulia pula. Karenanya, bagaimana mungkin nurani yang mulia itu mau menggunakan wasilah busuk lagi kotor. Atau –yang lebih ironis lagi- bahkan mendambakan hidayah dan pertolongan Allah melalui wasilah busuk itu ?

Ketika kita telah tersesat dalam sebuah penyimpangan, sebagai dampak dari lumpur kesalahan yang kita lalui, maka tidak terelakkan lagi kita pasti akan berada dalam penyelewengan yang sangat kotor. Karena jalan yang penuh dengan lumpur pasti akan meninggalkan bekas kotor pada kaki orang-orang yang melewatinya. Demikian pula halnya dengan wasilah yang kotor, pastilah akan menimbulkan noda hitam yang akan terus menempel dan meninggalkan bekas kekotoran pada jiwa kita serta pada tujuan yang akan kita capai”.

Dalam Tafsir Fi  Dzilalil Qur’an, menjelaskan surah Al Hajj ayat 52, yang artinya

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Hajj 52)

Sayyid Quthub Rahimakumullah mengatakan :

“Panasnya pergolakan dan kecamuk pertarungan telah mendorong para aktifis dakwah sepeninggal Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam untuk terus merupaya  menegakkan Risalah ini. Namun di sisi lain tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengambil jalan pintas dengan menggunakan berbagai wasilah, strategi  dan metode yang melenceng dari kaidah dan manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ketergesa-gesaan dan ketidak sabaran untuk segera memperoleh kemenangan dan keberhasilan dakwah mereka.

Jalan pintas itu adalah hasil ijtihad mereka atas apa yang mereka sebut dengan “mashlahat dakwah”. Padahal yang dimaksud dengan mashlahat dakwah yang sebenarnya adalah sikap istiqomah dari para pengemban amanah dakwah agar senantiasa berada di atas manhaj dakwah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam tanpa sedikit pun tergoda untuk berpaling darinya walau selangkah pun. Adapun hasil akhir dari dakwah adalah perkara ghaib yang tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah Azza Wa Jalla wa Jalla.

Dengan demikian tidak selayaknya bagi para aktifis dakwah menjadikan hasil akhir sebagai tolok ukur dan tujuan utama dakwah mereka. Kewajiban mereka hanyalah menegakkan dakwah di atas manhaj yang lurus dan bersih dari berbagai penyimpangan, seraya  bertawakkal dan menyerahkan seluruh hasil usaha yang telah dilakukan dengan penuh istiqomah kepada Allah Azza Wa Jalla wa Jalla. Jika ini telah dilakukan, niscaya kebaikan lah yang akan diperoleh, apapun hasil yang dicapai.

Ayat di atas mengingatkanmereka bahwa syaitan tidak akan pernah berhenti menghembuskan tipu daya dan godaan-godaannya terhadap para aktifis dakwah. Allah telah melindungi para Rasul dan nabi yang ma’shum sehingga mereka mampu membebaskan diri dari setiap tipu daya syaitan dan tetap istiqomah pada manhaj dakwah yang lurus. Namun tidak demikian halnya dengan para aktifis dakwah setelah mereka. Karena itu sudah seyogyanya bagi setiap aktifis dakwah agar  berhati-hati dan waspada terhadap godaan syaitan ini dan tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada syaitan untuk menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan disebabkan oleh besarnya keinginan untuk segera mencapai keberhasilan dakwah dan memberikan “mashlahat” bagi umat Islam.

Tidak ada jalan lain, kalimat “mashlahat dakwah” harus dibuang jauh-jauh dari kamus para aktifis dakwah, karena ia telah memalingkan mereka dari tujuan dakwah yang mulia dan menjadi pintu masuk syaitan untuk menyesatkan mereka setelah gagal menjerumuskan mereka melalui pintu mashlahat pribadi.

Lebih lanjut Sayyid Quthb menambahkan :

“Mashlahat dakwah” telah menjelma menjadi berhala, Ilaah yang diibadahi oleh para aktifis dakwah dan menjadikan mereka melupakan manhaj dakwah Rasul yang murni dan orisinal. Karena itu, wajib bagi setiap aktifis dakwah untuk tetap istiqomah di atas manhaj Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam serta dengan sekuat tenaga menjaga agar tidak tergoda oleh segala bujuk rayu yang pada akhirnya justru akan menghancurkan bangunan dakwah yang telah mereka bina.

Ketahuilah bahwa satu-satunya bahaya  yang harus terus  diwaspadai oleh para aktifis dakwah adalah penyimpangan dari manhaj dakwah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam dengan alasan apapun, sekecil apapun penyimpangan itu.

Karena sesungguhnya Allah lah yang  lebih Mengetahui tentang mashlahat dibandingkan mereka. Sedangkan mereka tidak dibebani sama sekali untuk mewujudkan mashlahat itu. Mereka hanya diwajibkan atas satu hal saja: “agar tidak menyimpang sedikit pun dari Manhaj Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam dan tidak menyerah kalah lalu meninggalkan jalan dakwah yang penuh berkah ini “ . [2]

Inilah esensi kemenangan sejati. Kemenangan yang hanya bersandar kepada manhaj kenabian. Kemenangan yang terbebas dari pencampuran antara kepentingan dunia dan akhirat meski hidup penuh onak dan duri. Inilah ciri generasi rabbani sejati ya ikhwah. Seperti bagaimana Asy Syahid menjelaskannya di bab-bab terakhir dari kitab monumentalnya, Ma’alim fiththariqh.

Sesungguhnya nilai yang paling berharga di dalam neraca Allah Ta’ala  adalah nilai aqidah. Sesuatu yang paling laris dalam perniagaan Allah adalah iman. Kemenangan yang paling bernilai di sisi Allah ialah kemenangan ruh atas kebendaan, kemenangan aqidah menghadapi sakit dan sengsara, kemenangan iman menempuh badai fitnah dan ujian.

Di dalam kisah pembunuhan beramai-ramai di dalam parit api (Ashabul Uhdud), yang kita perbincangkan ini, nyata sekali kemenangan orang-orang beriman itu mengalahkan perasaan takut dan sakit. Kemenangan mengatasi godaan-godaan duniawi, kemenangan menghadapi fitnah, kemenangan kehormatan dan harga diri umat manusia di sepanjang zaman. Inilah kemenangan sejati !”. [3]

[1]  Wasiat ini pertama kali dirilis oleh Majalah Al Fikr Tunisia edisi VI Maret 1959 dengan judul “Cahaya dari Kejauhan”.

[2]  Tafsir Fi Dzilalil Qur’an Juz 4 halaman 2435, Al Qoul An Nafiis Fit Tahdzir Min Khodi’ati Iblis (Mashlahah Da’wah) karangan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi halaman 60 – 61

NB: Wasiat-wasiat dari tulisan Asy Syahid Sayyid Quthb dicopy dari penggalan Tulisan Ustadz Fuad Hazmy dengan judul “Tuhan Baru Itu Bernama “Maslahat Dakwah”.

wallahua’lam bishshawab

Asy Syahid Sayyid Quthb, semoga Allah memberikan tempat terbaik bagimu di Jannah
http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1406577036&sk=info

Wasiat Hasan Al Banna

Kami bukanlah sebuah partai politik, meskipun politik berdasar kaidah-kaidah Islam ada dalam pemikiran kami.
Kami bukanlah organisasi sosial yang reformis, meskipun kegiatan amal dan reformasi merupakan tujuan kami yang paling utama.
Kami bukanlah klub olah raga, meskipun olah raga merupakan salah satu program wajib kami.
Kami bukanlah bentuk-bentuk perhimpunan seperti itu, sebab semuanya bersifat temporer dan terbatas, yang kadang-kadang dibentuk hanya sekedar keinginan memperoleh sesuatu saja. Sedangkan kami wahai sekalian manusia- adalah sebuah fikrah dan aqidah, sistem dan jalan hidup yang tidak dibatasi oleh wilayah geografis dan diikat oleh etnis, dan tidak sirna karena diterpa persoalan, hingga Allah mewariskan bumi ini dan seisinya.
Sebab, ia adalah sistem dan manhaj buatan Rabb semesta alam, dan jalan yang ditempuh Rasul-Nya yang amanah. Kami –bukan untuk berbangga- adalah para sahabat Rasulullah dan pembawa panji-Nya setelah mereka, pengibar bendera seperti mereka, penyebar agama seperti mereka, pemelihara Al-Qur’an seperti mereka, pelaku da’wah seperti mereka, dn rahmat Allah bagi seluruh alam.
‘Dan sungguh kalian akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’an beberapa waktu yang tak lama lagi.’ (QS.Shad: 88).

Oleh Ibnu Hasan Aththobari

Sahabat mulia Anas ibn Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ” sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat, jika Allah mencintai satu kaum, maka Ia menguji mereka, siapa yang ridha [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah, siapa yang marah/tidak senang [dengan ujian itu] maka mereka akan mendapatkan murkaNya ” [HR At-Tirmidzi]

 

Allah akan menguji mereka supaya hati mereka tidak disibukkan oleh dunia, sebagai kecemburuanNya atas mereka, agar mereka tidak  celaka di hari kiamat. semua ujian berupa kesulitan hidup dan keruwetan dunia semata-mata ditujukan untuk menguji mujahadah mereka bersama Allah Ta`ala

 

Allah berfirman :” dan sesunggguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian dan agar Kami menyataka [baik buruknya] hal ihwal kalian” [ Muhammad /31]

 

ujian berbanding lurus dengan kekuatan iman yang dimiliki oleh orang-orang yang dicintai Allah itu.

Dari Sa`ad radhiyallahu anhu, ia berkata :” saya bertanya :” Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :” Para Nabi, orang-orang yang mengikutinya dan demikian seterusnya, seorang diuji sesuai dengan kadar imannya, makin kuat agamanya maka makin kuat ujiannya, bila lemah agamanya, ia diuji sesuai dengan kapasitasnya, seorang hamba tidak henrti-henti diberi ujian sehingga ia berjalan di muka bumi dengan tanpa kesalahan”. [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Ad-Darimi dan Hakim]

 

Dari Abu Sa`id radhiyallahu anhu, ia berkata :” saya menjumpai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau kurang sehat, saya pegang dan tubuhnya terasa panas sekali, saya katakan :” Ya Rasulullah. alangkan berat cobaan yang anda rasakan”.

Rasulullah bersabda :” beginilah kita, bila cobaan yang menimpa kita kecil atau lemah, maka kecil pula ganjarannya”.

Aku bertanya :” Ya Rasulullah, lalu siapa yang paling berat cobaannya?”.

Rasulullah bersabda :” Para Nabi”.

Aku bertanya :” lalu siapa  lagi?”

Rasulullah bersabda :” orang-orang shalih, sungguh salah seorang dari mereka merasa senang menerima cobaan, seperti seorang diantara kalian merasa senang mendapatkan anugrah”. [HR Ibnu Majah]

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150098535190325

Da’i Penghuni Neraka

Oleh Ustadz Ibnu Hasan Aththobari

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :” pada hari kiamat seorang didatangkan lalu dilemparkan ke neraka hingga ususnya keluar, ia berputar di pusaran api neraka sebagaimana keledai berputar mengitari penggilingan gandum. Para penghuni neraka mengerumuni orang tsb lalu berkata :” hai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu yang dulu menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat munkar?”. Orang itu menjawab :” ya, aku dulu menyuruh berbuat baik tapi aku tidak mengerjakannya dan melarang kemunkaran tapi aku malah mengerjakannya.

Hadis tersebut menggambarkan dengan jelas tentang nasib da’i yang lebih senang ngomong dari pada berbuat baik dan berprilaku terpuji. Nasib mereka pada hari kiamat adalah dimasukkan kedalam neraka dalam keadaan terikat, betapa dahsyatnya apa yang dialami dan dirasakan, ususnya terburai keluar, berputar dipasaran neraka, para penghuni neraka sampai terheran-heran melihat derita yang diterimanya, mereka bertanya, dosa apa yang dilakukannya sehingga mendapatkan siksa yang begitu pedih? Bukankah kalian adalah ulama dan imam kita? Kalian menyuruh kami mengerjakan kebaikan dan melarang kami dari perbuatan munkar?. Lalu ia menjawab ; memang betul, saya menyuruh kalian berbuat kebaikan dan melarang perbuatan munkar, tapi saya mengharamkan diri dari kebaikan dan tidak mengerjakan yang saya perintahkan bahkan lebih buruk lagi saya mengerjakan kemunkaran yang saya larang orang lain melakukannya.

Begitulah da’i itu dipermalukan didepan manusia sebagai balasan atas pelecehannya terhadap ajaran Allah dan mempermainkannya tanpa rasa malu sedikitpun.

Dalam hadis yang lain, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas ibn Malik, Rasulullah bersabda ;” pada malam aku di isra’kan aku berjalan melewati orang-orang yang bibir mereka di gergaji dengan gergaji dari neraka. Aku berkata :” siapakah mereka?”. Para malaikat berkata :” mereka adalah para khatib umatmu diantara penduduk dunia, mereka dulu menyuruh manusia berbuat kebajikan dan mereka melupakan diri sendiri padahal mereka membaca alkitab, apakah mereka tidak berfikir?”.

Imam Tabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :” sejumlah orang dari penghuni surga melongok kepada sejumlah orang yang menjadi penghuni neraka, lalu penghuni surga itu bertanya kepada penghuni neraka :”kenapa kalian masuk neraka?, demi Allah, kami masuk surga karena apa yang kami pelajari dari kalian”. Penghuni neraka menjawab :” kita cuma sekedar bicara tapi tidak mengamalkan apa yang kita bicarakan”.

Hal senada juga di firmankan Allah dalam alqur’an dalam surah ash-shaf ayat 2 dan 3, albaqarah ayat 44.
Semoga Allah menjauhi kita dari sifat dan prilaku yang demikian.

Wallahul Musta’an

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150109401945325

Oleh Ibnu Hasan Aththobari

Serombongan orang dari Yatsrib bergerak menuju Makkah, ada kerinduan dalam hati mereka untuk berjumpa dengan sosok manusia yang mereka cintai, ada janji untuk bertemu yang mendorong semangat mereka, janji untuk berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terbayang dalam benak mereka saat meletakkan tangan diatas tangan Rasulullah yang mulia untuk berbai`at kepadanya.

 

Diantara mereka ada seorang pemuka kabilah yang tengah beranjak tua, ia mengajak anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil, sembilan anak perempuannya ditinggalkannya di Yatsrib. Ia memang tidak memiliki anak laki-laki selainnya. Orang tua ini ingin anaknya menyaksikan bai`at dan tidak kehilangan moment yang agung dan penuh berkah itu. Abdullah ibn Haram Al-Anshari Al-Khazraji radhiyallahu `anhu, demikian nama laki-laki mulia ini dan anaknya adalah Jabir ibn Abdillah Al-Anshari Al-Khazraji radhiyallahu anhu. Keimanan bersinar di hati Jabir kecil, cahaya iman telah merasuk keseluruh relung hatinya yang masih bersih dan tumbuh kokoh dalam dirinya, hati sahabat yang mulia ini telah terpaut dengan cintanya kepada Rasulullah sejak dini.

 

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, anak kecil ini sudah berguru kepada beliau, ia menjadi salah seorang yang lulus dari madrasah nubuwwah sebagai mujahid, penghafal alqur`an dan perawi hadis-hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

 

Jabir ibn Abdillah tidak ikut serta dalam perang badr dan perang uhud bersama Rasulullah karena pada saat itu ia masih terlalu kecil. Ayahnya juga memerintahkannya untuk tinggal bersama 9 orang saudara perempuannya karena dia-lah satu-satunya laki-laki yang bisa membantu urusan keluarga. jabir dikenal sebagai sosok yang sangat taat kepada ayahnya.

Ya Allah anugrahkan kami anak-anak yang taat laksana sahabat RasulMu yang mulia ini..

 

Menjelang perang uhud, Abdullah ibn Haram memanggil putranya jabir seraya berkata :” wahai anakku,  aku bermimpi bahwa aku adalah sahabat Rasulullah yang pertama kali mendapatkan syahid aku bahkan tidak meninggalkan sesuatu yang paling berharga untuk kalian selain diri Rasulullah, ayah memiliki hutang, lunasilah hutang itu dan berikan wasiat yang baik kepada saudara-saudaramu”.

 

Saat peperangan berkecamuk, sesuai dengan mimpinya, yang pertama kali terbunuh diantara dua pasukan adalah Abdullah ibn Haram radhiyallahu anhu, ketika debu-debu pertempuran mulai sirna terlihat Jabir sedang mengangkat baju dari jasad ayahnya, setelah janazah sahabat yang mulia itu dikuburkan, Jabir mendatangi Rasulullah sambil berkata :” Ya Rasulallah, ayahku meninggalkan hutang kepada kami, tak ada sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melunasinya kecuali pohon korma yang telah berbuah, jika aku hanya mengandalkan itu butuh waktu lama untuk melunasinya, apalagi pohon itu juga satu-satunya yang menjadi sumber nafkah keluarga kami”.

 

Rasulullah yang mulia beranjak pergi ketempat penyimpanan korma milik Jabir, beliau berkata :” panggil orang-orang yang punya piutang dengan ayahmu”

Maka Jabir memanggil mereka, sementara Rasulullah terus saja menakar sehingga Allah menlunasi semua hutang ayahnya dengan korma itu. “ subhanallah, aku melihatnya tidak berkurang sedikitpun, aku melihatnya tetap seperti sebelum korma itu ditakar”. Cerita Jabir pehuh rasa takjub

 

Sejak ayahnya meninggal, putra Abdullah ibn Haram yang shalih ini tak pernah melewatkan satu peperanganpun bersama Rasulullah, ia banyak mengalami berbagai peristiwa  yang kemudian ia riwayatkan dan salah satunya adalah pada hari-hari menjelang perang khandaq [ insya Allah saya akan menyusulkannya dengan note tersendiri]

 

Nun jauh beberapa puluh tahun kemudian, Jabir berangkat untuk berjihad melawan pasukan rumawi, saat itu pasukan kaum muslimin dipimpin oleh seorang komandan yang bernama Malik ibn Abdillah Al-Khatsami, pada saat sang komandan berkeliling ditengah pasukannya ia berjumpa dengan Jabir ibn Abdillah yang sedang berjalan kaki menuntun keledainya.

Komandan bertanya :” apa yang terjadi ya Aba Abdillah? Kenapa anda tidak menungganginya, padahal Allah memberikan kemudahan padamu dengan punggungnya yang dapat meringankan bebanmu”.

Sahabat yang mulia ini menjawab :” aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :” siapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, Allah akan mengharamkan neraka baginya”.

Malik-pun meninggalkannya setelah Jabir menjelaskan alasannya. Besok paginya, Malik muncul mendahului para mujahidin, dengan suara lantang ia memanggil : “ Ya Aba Abdillah, kenapa engkau tidak menunggang keledaimu padahal itu milikmu?”

Jabir mengerti maksud sang komandan, ia menjawab dengan suara yang tak kalah lantang : “ karena aku mendengar Rasulullah bersabda :” siapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, Allah akan mengharamkan neraka baginya”.

Mendengar apa yang dikatakan Jabir, maka para prajurit segera berlompatan dari hewan tunggangan masing-masing, karena semua ingin mendapatkan ganjaran yang sangat besar ini.. Subhanallah Allahu Akbar. Diriwayatkan, tidak ada pasukan dengan jumlah pejalan kaki lebih banyak dari pada pasukan itu. lihatlah, pantas Allah menurunkan pertolongan dan kemenangan kepada mereka, kita lihat bagaimana orang-orang yang mulia bersikap terhadap sabda Nabinya, tidak ada seorangpun yang menganggap remeh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

 

Dialah Jabir ibn Abdillah Al-Anshari radhiyallahu anhu, betapa beruntung beliau karena ia berbai`at kepada Rasulullah yang mulia di usia yang masih belia bahkan belum baligh, ia berguru kepada manusia terbaik sejak kuku-kukunya masih halus, ia juga meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah yang banyak dinukil oleh para perawi hadis, berjihad bersama Rasulullah dan dialah yang menebarkan debu ke kakinya di jalan Allah saat usianya telah senja.

Jabir adalah mufti Madinah di zamannya, menyaksikan bai`at aqabah bersama ayahnya, ikut dalam perang khandaq, ikut serta dalam bai`at ridwan, menyaksikan perjanjian hudaibiyah, ia berkata :” Rasulullah bersabda kepada kami saat perjanjian hudaibiyah :” kalian semua saat ini adalah penduduk bumi yang terbaik”. Jumlah kami saat itu sekitar 1400 orang.

Jabir ibn Abdillah wafat pada tahun 78 hijrah dalam usia 94 tahun.

Radhiyallahu anhum ajma`iin

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150114018205325

 

 

Izzuddin adalah ulama yang berwibawa di hadapan penguasa dan dicintai oleh rakyatnya. Para penguasa Mesir tidak berani menyelisihi permintaan beliau. Sekali menentang, maka kekuasaan mereka akan terancam

Di Mesir, di saat semua orang merayakan hari raya, tanpa diundang, Izzuddin bin Abdissalam (660 H) mendatangi benteng. Beliau menyaksikan pasukan berbaris sedang mengelilingi rajanya, yang sedang menemui para penghuni istana, dengan pakaian kebesaran yang biasa dipakai oleh para penguasa Mesir saat itu.

Dalam situasi yang demikian khidmat, Syeikh Izzuddin memanggil Sang Sultan dengan suara tinggi,”Wahai Ayub! Apa jawabanmu kelak ketika Allah mengatakan kepadamu,’Bukankah kau telah Kuberi kekuasaan di Mesir, akan tetapi kau lantas menghalalkan khamr?’”

Sultan menjawab,”Apa ini terjadi?”

“Iya, kedai fulan telah menjualnya dan menjual barang-barang haram yang lainnya, sedangkan kau lalau karena kenikmatan kekuasaan.” Jawab Izzuddin, dan pasukan yang mengelilingi sultan pun ikut terdiam tidak berkutik.”Itu sudah ada sejak zaman ayah kami.” Sultan membalas.”Engkau termasuk mereka yang berkata,’Sesungguhnya kami mendapati ayah-ayah kami mengikuti suatu ajaran.’” Jawab ulama yang bergelar Syaikh Al Islam ini.

Akhirnya, Sultan Shalih Najmuddin Ayub mengeluarkan perintah untuk menutup kedai tersebut.

Kabar ini tersiar di seluruh penjuru Mesir, hingga murid beliau Syaikh Abu Abdullah Muhammad An Nu’man mendengarnya, hingga ia bertanya, bagaimana gurunya itu berani melakukannya, tanpa ada rasa takut.

“Wahai anakku, aku melihat darinya ada perasaan bahwa dirinya terhormat, maka harus aku merendahkannya, agar kesobmongannya tidak mencelakai dirinya sendiri” Dan Izzuddin juga menyampaikan bahwa Allah telah memberikan kepadanya kewibawaan, hingga para penguasa tidak berdaya di hadapannya.

Peristiwa selain itu, yang juga disebutkan dalam Thabaqat As Syafi’iyah (8/211-217), terulang kembali, setelah bangsa Tatar memporak-porandakan Baghdad, mereka hendak memasuki Syam yang berjarak tidak terlalu jauh dari Mesir. Saat itu, pasukan Mesir ketakutan, hingga kerajaan meminta saran dari Izzuddin.

Akhirnya, beliau menyampaikan sarannya,”Kalian harus keluar, saya jamin, kalian memperoleh kemenangan”.

“Uang anggaran kami sedikit, kami perlu berhutang kepada para pedagang.” Kata Sultan.

“Kau kumpulkan perhiasan dari para isterimu, demikian juga para pejabat, menyerahkan emas yang mereka miliki terlebih dahulu, baru jika itu tidak cukup, silahkan meminjam”, Jawab Izzuddin.

Akan tetapi, penguasa masih berlambat-lambat untuk melakukan penyerangan. Mereka menginginkan peperangan dilakukan setelah hari raya. Tapi, bukan Syeikh Izuddin kalau harus diam saja, beliau meminta secara tegas agar penyerangan dilakukan pada bulan Ramadhan. Hingga akhirnya, pasukan keluar Mesir di saat bulan suci berlangsung.

Akhirnya mereka bertemu pasukan Tatar di desa Ain Jalut, peperangan dasyat terjadi. Disanalah Tatar diporak-porandakan, sedangkan pemimpinnya dihukum pancung, dan eksapansi pasukan brutal itu berakhir di desa ini.

Adalagi, peristiwa yang menunjukkan bahwa Syaikh Izzuddin lebih berkuasa daripada para sultan itu sendiri. Setelah Syaikh Izzuddin mengetehui bahwa beberapa pejabat ternyata masih berstatus budak, beliau mengeluarkan fatwa bahwa mereka harus dimerdekakan terlebih dahulu dengan harta baitul mal, sehingga mereka berhak untuk melakukan tugas. Kontan fatwa ini membuat mereka, apalagi Wakil Sultan, termasuk pihak yang disebutkan Izzuddin. Walhasil, mereka menolak mentah-mentah ajakan murid Hafidz Ibnu Asakir ini.

Mendengar kabar itu, Syeikh Izzuddin berencana keluar dari Mesir menuju Syam beserta keluarganya, dengan mengendarai beberapa ekor keledai. Akan tetapi semua penduduk mencegahnya, anak-anak, para wanita, serta para pedagang keluar, mereka menginginkan agar Syeikh Izzuddin tetap tinggal di Mesir.

Mendengar kabar demikian, Sultan dengan kendaraannya sendiri segera berangkat untuk menyusul Syaikh Izzuddin. “Kalau dia sampai keluar Mesir, kekuasaanmu bisa segera jatuh!” Kata beberapa pihak kepada Sultan.

Akhirnya, Sultan sendiri memohon agar ulama Syafi’i ini tetap tinggal di Mesir. Selanjutnya, semua pajabat yang dipandang masih sebagai budak, dimerdekakan melalui ulama ini, dengan harta yang tidak sedikit dari baitul mal.

Walhasil, selama penulis kitab Qawaid Al Ahkam fi Mashalih Al Anam ini masih hidup, para penguasa tidak mampu berbuat apa-apa. Sehingga ketika beliau wafat dan jenazahnya diangkat melewati benteng, Sultan Dhahir Bebres mengatakan,”Hari ini aku mendapat kewenangan penuh atas kekuasaan, karena Syaikh ini, jika mengatakan kepada manusia,’Jangan mentaati dia!’ Maka kakuasaan benar-benar akan lepas dariku.”

Setiap sistem mempunyai filsafat dan gagasannya tentang kehidupan. setiap sistem mempunya masalah-masalah yang timbul dari penerapannya dan mempunyai persoalan-persoalan yang sesuai dengan watak dan pengaruhnya di alam nyata. demikian pula setiap sistem mempunyai penyelesaian-penyelesaian untuk menghadapi persoalan dan masalah yang timbul dari watak dan metodenya.

Jadi tidak logis, dan juga tidak adil, kalau dari suatu sistem tertentu di minta menyelesaikan dari masalah-masalah yang tidak ditimbulkannya sendiri, tetapi ditimbulkan oleh suatu sistem lain yang berbeda watak dan metodenya dari sistem itu.

Logika yang rasionil akan berpendapat: Siapa yang bermaksud minta pendapat suatu sistem tertentu dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, maka sistem ini harus dilaksanakan terlebih dahulu dalam kenyataan hidup. setelah itu baru dilihat apakah masalah-masalah itu masih ada atau menghilang, atau berubah bentuk dan unsurnya. hanya di saat inilah kita mungkin meminta pendapat sistem ini mengenai persoalan-persoalan yang timbul sewaktu dilaksanakan.

Islam adalah suatu sistem kemasyarakatan yang lengkap, yang unsur-unsurnya saling berkaitan dan saling mendukung. sistem ini berbeda wataknya, gagasannya tentang kehidupan dan cara-cara pelaksanaannya dari sistem-sistem barat, dan dari sistem yang kita pakai sekarang ini. perbedaan ini adalah perbedaan pokok dan menyeluruh. sudah pasti bahwa sistem Islam itu tidak ikut andil dalam menimbulkan persoalan-persoalan yang terdapat dalam masyarakat sekarang ini. persoalan-persoalan itu timbul dari watak sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat dan timbul karena dijauhkannya Islam dari lapangan kehidupan.

Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapatnya mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Ia diminta untuk mengeluarkan pendapat tentang masalah yang tidak ditimbulkannya. heran sekali kenapa Islam itu tidak dilaksanakan, mengenai masalah-masalah seperti wanita dan parlemen, wanita dan kerja, wanita dan pergaulan bebas, masalah seks para pemuda dan lain lain sebagainya. orang-orang yang minta agar Islam mengeluarkan pendapatnya dalam masalah ini adalah orang-orang yang tidak suka kalau Islam itu memerintah, malah mereka takut sekali untuk membayangkan jika pemerintahan Islam itu berdiri.

Dan yang lebih aneh lagi dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban-jawaban yang diberikan para ulama Islam, dan kesediaan mereka untuk ikut serta dengan para penanya itu dalam perdebatan tentang pendapat Islam dan hukum Islam, dalam perincian-perincian masalah seperti itu, dalam membahas persoalan-persoalan seperti itu, dalam suatu negara yang tidak diperintah oleh Islam dan sistem Islam tidak dilaksanakan.

Apakah urusan Islam sekarang ini dengan masuk tidaknya wanita ke dalam parlemen? apa urusan Islam dengan masalah wanita dan pria bergaul bebas atau tidak? apakah urusan Islam dengan masalah apakah wanita boleh bekerja di luaran atau tidak? apa hubungan Islam dengan suatu persoalan dari persoalan-persoalan yang dipunyai sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat ini, yang tidak percaya kepada Islam, dan tidak suka kepada pemerintah Islam?

Kenapa masalah-masalah perincian ini diminta untuk disesuaikan dengan hukum Islam, padahal sistem Islam itu sebagai keseluruhan diusir dari pemerintahan, diusir dari sistem kemasyarakatan, diusir dari perundang-undangan negara dan diusir dari kehidupan bangsa?

Islam adalah suatu keseluruhan yang tidak dapat di bagi-bagi. jadi Islam dapat di ambil sebagai suatu keseluruhan dan dapat pula di tinggalkan sebagai suatu keseluruhan. tetapi kalau Islam diminta untuk mengeluarkan pendapat dalam urusan yang kecil-kecil, tetapi sama sekali tidak diperhatikan dalam masalah prinsipil yang besar-besar yang menjadi dasar kehidupan dan masyarakat, maka masalah-masalah kecil seperti ini tidak boleh diterima oleh seorang Islam, jangankan oleh seorang ulama, oleh umat pun tidak boleh.

Jawaban yang harus diberikan kepada setiap orang yang meminta pendapat tentang suatu persoalan perincian dari masalah-masalah yang terdapat pada masyarakat yang tidak percaya kepada agama Islam dan tidak mengakui hukum Islam, adalah sebagai berikut:

Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang di timbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam.

Islam mendidik manusia dengan suatu pendidikan tertentu, dan memerintah menusia dengan suatu hukum tertentu, mengatur masalah-masalah mereka atas dasar-dasar tertentu, menciptakan unsur-unsur kemasyarakatan dan perasaan tertentu. jadi yang perlu diupayakan adalah:

1. Laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukuman pemerintahan, dalam dasar-dasar perundang-undangan dan dalam prinsip-prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat, atau menghilang dengan sendirinya. Tetapi sebelum hal itu dilakukan, apa hubungan Islam dengannya, dengan semua masalah yang tidak akan pernah dikenal oleh suatu masyarakat Islam yang benar?

2. Ciptakanlah masyarakat Islam yang diperintah oleh hukum Islam dan prinsip-prinsip Islam, didiklah wanita dan pria dengan pendidikan Islam yang sesungguhnya, di rumah, di sekolah, dalam masyarakat, dan ciptakanlah jaminan-jaminan kehidupan yang telah ditentukan Islam untuk semua orang. Baru setelah itu kita bertanya kepada para wanita: Apakah ia masih ingin untuk bekerja di kantor-kantor ? ia tidak akan ingin bekerja, karena kepentingan-kepentingan kehidupannya tidak memerlukannya lagi. Tanyakanlah kepadanya: Apakah ia ingin untuk bergaul bebas dengan laki-laki, untuk menghias diri dan memperlihatkan bagian-bagian badan, atau apakah pendidikannya di waktu itu akan memeliharanya dari naluri-naluri kebinatangan, dari hawa nafsu kebinatangan, dan perasaannya akan menyeru nya untuk bertindak dengan penuh tata kesopanan, karena ia merasa malu kepada Allah?

Pada saat-saat tertentu ada orang-orang yang bertanya: Apakah kita akan memotong tangan ribuan pencuri setiap tahun demi untuk melaksanakan hukum Allah?

Orang-orang ini juga melakukan kesalahan yang sama. Sedangkan orang-orang yang menjawabnya dengan fiqh Islam, telah melakukan dua macam kesalahan sekaligus.

Ribuan pencuri yang terdapat setiap tahun bukanlah akibat dari masyarakat Islam, dan juga bukan dari sistem Islam. ia merupakan hasil dari suatu masyarakat lain yang telah mengusir Islam dari kehidupannya, dan melaksanakan suatu sistem kemasyarakatan lain yang tidak dikenal oleh ISlam. Para pencuri itu adalah produk dari suatu masyarakat yang membolehkan adanya orang-orang lapar dan miskin, tanpa mengemukakan penyelesaian dari masalah yang mereka hadapi, suatu masyarakat yang tidak menyediakan makanan yang cukup untuk jutaan orang, tidak mendidik jiwa kemanusiaan, dan tidak menghubungkan seluruh kehidupan dengan Allah dan juga tidak dengan syariat Allah.

Sedangkan masyarakat Islam adalah masyarakat lain: suatu masyarakat dimana setiap individu di dalamnya di jamin rezekinya, baik yang bekerja atau yang menganggur, baik yang kuat maupun yang lemah, baik yang sehat maupun yang sakit. suatu masyarakat yang setiap tahunnya mengambil pukul rata seperduapuluh dari modal, bukan dari keuntungan, untuk kepentingan perbendaharaan negara. dan setelah itu di ambilnya lagi, tanpa ikatan dan tanpa syarat, semua uang yang diperlukan negara untuk memelihara masyarakat dari penyakit-penyakit.

Jadi laksanakanlah sistem itu terlebih dahulu. setelah itu baru dilihat, masih berapa orangkah yang masih memerlukan pertolongan, berapa orang pencurikah yang masih mau melakukan pencurian, sedangkan perutnya dipenuhi oleh makanan dan hati nya dipenuhi oleh keimanan.

Demikian pula ada di antara orang yang bertanya kepada Anda tentang masalah seks di kalangan pemuda, kalau mereka mengikuti ajaran-ajaran Islam

Orang-orang ini melihat kehidupan pemuda-pemuda yang hidup dalam suatu masyarakat yang bukan Islam. segala yang terdapat disana merangsang naluri mereka. segala yang terdapat disana membangkitkan syahwat mereka. lalu mereka meminta pendapat Islam tentang masalah-masalah yang dihadapi pemuda-pemuda ini.

Dalam masyarakat Islam tidak terdapat pemudi-pemudi yang berbaju minim atau bertelanjang, wanita-wanita yang suka menggoda orang lain atau digoda, yang berkeliaran di setiap tempat, menyebarluaskan fitnah dan kekacauan, dan semua nya itu untuk keuntungan setan. dalam masyarakat Islam tidak terdapat gambar-gambar telanjang, film-film cabul dan nyanyi-nyanyi cabul. dalam masyarakat Islam tidak terdapat koran yang menyiarkan gambar-gambar telanjang, kata-kata yang cabul dan lelucon yang cabul, yang dapat dijumpai di setiap tempat. dalam masyarakat ISlam tidak terdapat minum-minuman keras yang mendorong manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak sopan, yang dapat menghilangkan kehendak dan pemikirannya. akhirnya masyarakat Islam itu akan mempersiapkan pemuda untuk dapat hidup bersuami-istri dengan cepat, karena perbendaharaan negara akan membantu orang-orang yang ingin hidup baik dalam sebuah rumah tangga.

Saya menganggap semua permintaan pendapat yang diajukan kepada ISlam mengenai suatu persoalan yang tidak ditimbulkan oleh sistem ISlam, pada waktu itu Islam diusir dari segala bidang kehidupan, saya menganggap semuanya ini sebagai mempermain-mainkan dan memperolok-olokkan Islam. dan saya juga berpendapat bahwa jawaban yang diberikan kepada pertanyaan-pertanyaan seperti itu sama dengan ikut serta dalam memperolok-olokkan Islam yang dilakukan oleh para ahli yang memberikan fatwa.

Pendidikan Islam itu harus menguasai sekolah, rumah tangga dan masyarakat. Islam harus diambil sebagai suatu keseluruhan dan dibiarkan untuk melakukan kegiatannya dalam kehidupan sebagai suatu totalitas. Inilah yang lebih sesuai untuk kehormatan Islam dan kehormatan orang-orang yang menyeru kepada Islam.

(Sumber: Buku BEBERAPA STUDI TENTANG ISLAM – SAYYID QUTB)

Ketika

Oleh: Ust Ismeidas Makfiansah

ketika da’i hobby bernyanyi-nyanyi

ketika aktivis dakwah bangga bermewah-mewah

ketika demonstrasi berganti dengan dangdutan dan jogedan

ketika aktivis tak mampu lagi kritis

ketika ulama tak mampu bersuara didepan penguasa,

ketika pakar syariah menjadi banci, yg kehilangan konsistensi

ketika kreasi, cara dan kemaksiatan yang nyata tak lagi berbeda

saat itulah kita harus hadirmaju mengambil posisi, memasang badan

memancang prinsip, meneriakkan kebenaran

menentukan sikap, menantang keadaan

menggarap kekuatan, menggalang barisan

karena kebenaran memanggil, berteriak menanti…. keberanian

dengan darah, dengan nyawa, kami bela engkau ya islam

ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan, saatnya kita maju menjadi pemicu

ketika tak ada lagi yg bisa diandalkan, saatnya kita pasang badan menanggung beban

saatnya tak ada lagi teladan, tetaplah bangkit jangan tangisi keadaan…karena keluhan… tak pernah memperbaiki keadaan…

Allahu Akbar…!!!

Ditulis untuk anaknya yang bernama Sholeh, ketika usianya belum genap tiga bulan. Ditulis di daerah Dar-Gho Cechnya.

“Nasehat Komandan untuk putranya: surat dari medan tempur Cechnya. Sesungguhnya sejarah Islam tidak akan menggoreskan tintanya kecuali untuk para lelaki yang berlaku jujur kepada Alloh dan kepada siapa saja yang menyertainya; yang mempraktekkan kata-katanya, dan maju di barisan tempur paling depan.

Percayalah, Sholih, dulu para penyembah dirham, dunia, dan penyembah barat, menyibukkanku dengan profesi dan gaji, dan pahala di sisi Alloh adalah lebih baik dari semua ini. Maka habislah satu generasi dan generasi berikutnya hanya dengan kehidupan rutinitas yang mematikan, tak jauh berbeda dengan kehidupan binatang. Kita bangun pagi hari, sarapan, kemudian pergi ke tempat kerja, setelah itu makan siang, kemudian pulang ke rumah, kemudian makan malam, dan kemudian tidur. Tidak ada tujuan dalam hidup. Sholih, percayalah padaku, sejauh mana seseorang tekad dan tujuan dalam hidupnya maka sejauh itu pulalah ia diberi rezeki dan taufik. Sedangkan permasalahan-permasalahan hidup tidak akan pernah habis, ia hanya berkutat pada masalah pekerjaan, kendaraan, istri, anak, dan tempat tinggal. Setiap kali engkau berhasil pecahkan satu masalah, datang masalah lain. Engkau pecahkan sepuluh masalah, datang dua puluh masalah. Padahal umur semakin habis, sementara masalah tidak habis-habis.

Dunia Islam hari ini, memiliki berbagai tipe masyarakat, ada yang ulama, pencari ilmu, usahawan, insinyur, pegawai masjidil haram, dan orang-orang yang hidup pas-pasan dan terkekang: yaitu para tentara tauhid dan jihad sebagai ajaran tertinggi Islam.

Telah tiba waktu untuk berjihad, bangsa kafir datang dan tidak ada kata lain selain pedang. Sungguh, Alloh telah memberikan anugerah kepada umat Islam di zaman sekarang dengan dibukanya jihad, saya tidak katakan di zaman Rosululloh dan para shahabatnya. Kalau tidak percaya, lihatlah bagaimana mungkin bangsa termiskin di dunia mampu menyerang Uni Soviet, bangsa termiskin berani masuk melancarkan serangan ke jantung Rusia dan di Rusia. Kalau bukan karena aku hidup langsung denganbangsa-bangsa semacam ini, aku tidak percaya ini bisa terjadi.

Percaya padaku, wahai Sholih, kematian adalah seni yang bisa diatur, hanya saja ilmunya ada di sisi Alloh mengenai di mana dan kapan kematian itu terjadi. Kejarlah kematian, niscaya engkau akan raih kehidupan. Yakin dan berbaik sangkalah kepada Alloh. Memang kita hari ini mengaku beriman kepada Alloh, tetapi kita masih meragukan datangnya pertolongan dari Alloh untuk kita. Kita berprasangka yang bukan-bukan, kita tergentarkan oleh pesawat dan tank-tank musuh-musuh Alloh ketika perang Teluk. Perang Teluk telah meluluh lantakkan apa saja yang dimiliki kaum muslimin. Tapi setelah keyakinan diri kepada Alloh kembali ke dalam diri kaum muslimin pasca kekalahan Uni Soviet oleh Afghanistan, terhinakanlah kekuatan barat dan timur di hadapan kekuatan iman kepada Alloh. Lalu datanglah bangsa barat ke negeri Islam, untuk menggelar pentas yang membuat umat Muhammad ketakutan. Padahal Saddam sendiri belum mampus, ia menjelma menjadi manusia buas yang menakut-nakuti kaum muslimin dengan perang ini, kaum muslimin harus diperas hartanya dan menanggung hutang bertumpuk-tumpuk lantaran perang yang memakan waktu satu tahun ini, dengan perahan yang betul-betul habis.

Sholeh! Engkau akan mati sendirian, tinggal di kubur sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian. Padahal jalan yang harus ditempuh begitu panjang, sedangkan bekal kita sedikit. Maka, berbekallah dengan takwa dan jihad di jalan Alloh, sebab jihad adalah kemuliaan di dunia dan akhirat.

Buah hatiku! Kamu sekarang memang masih kecil, tetapi kami telah merintis jalan buatmu dan manusia-manusia seusiamu sekarang, kami menyiapkan dan memberikan pelajaran kepada kalian. Apa yang tidak bisa diberikan kakek-kakek kalian kepada kami, maka tinggalah harapan umat ini ditumpukan kepada generasi kalian. Ketika kami nanti sudah tua, harapan kami hanya kepada Alloh, setelah itu kepada kalian.

Sayangku dan permata hatiku… Pemuda hari ini menjadi budak syetan, berupa televisi, sepak bola, rekreasi, dan mobil. Hindarilah mati karena kecelakaan atau tabrakan. Mintalah khusnul khotimah kepada Alloh; mati syahid. Dengan ini engkau akan dikumpulkan bersama sang Nabi tercinta dan terpilih, Muhammad SAW, dan para shahabatnya. Mereka berada di derajat para nabi, kemudian shiddiiqiin (orang-orang yang imannya kuat), kemudian para syuhada.

Wahai penyejuk mataku… Pujilah Alloh, karena engkau dilahirkan di bumi peperangan, desa kaum ibumu dihancurkan, mereka membela agama dan kehormatan mereka sampai titik penghabisan. Separo dari mereka keluar berperang bersama ayahmu melancarkan pembalasan, dan separo lagi harus mengenyam pahitnya penjara dan mati terkubur di bawah tanah, mereka syuhada…Insya Alloh. Merekalah yang pertama kali memproklamirkan syariat Islam di Dagestan, sebuah negeri para budak, pemerintahan atheis dan kafir di Kar Makhi. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu, ketika mereka dikepung kekuatan militer dzalim dari empat penjuru dan desa-desa mereka dibombardir, maka kami berdiri bersama tentara tauhid untuk membela diri, dan pecahlah pertempuran-pertempuran yang belum pernah kusaksikan, ketika itu dihinakanlah bangsa zalim dan atheis. Ketika kamu masih dalam perut ibumu, pesawat-pesawat membumi hanguskan bumi dan manusia yang ada di atasnya, yaitu di bumi Cechnya. Pujilah Alloh, karena engkau sudah mendengar suara peluru dan rudal ketika engkau masih di perut ibumu. Ibumu sendiri harus lari dari satu tempat ke tempat lain.

Anakku yang mulia… Jangan mimpi untuk hidup senang, lezat, dan damai-damai saja. Karena dunia kafir akan mengejar di belakangmu. Demi dosa ayahmu, pilihlah untuk dirimu kehidupan izzah (harga diri) dan kemuliaan, sebelum engkau dijebloskan di penjara kafir. Sebab teman-teman ayahmu telah diperlakukan seperti itu, sedangkan engkau tidak jauh berbeda dengan mereka, dan aku tidak lebih baik daripada teman-teman ayahmu. Ambillah keputusan hidup yang tegas lalu teguhlah di atasnya, percayalah kepada taufik Alloh, jangan dengar katanya-katanya, dan pertanyaan yang masih kira-kira.

Hendaknya engkau mencari ilmu dan menghafal kitab Alloh ketika masih kecil, setelah itu ber-I‘dad dan berjihad di jalan Alloh.

Anakku, aku tidak tahu apakah kita nanti akan bersama-sama dalam medan pertempuran, engkau jadi komandanku dan aku prajuritmu yang memberi minum pasukan lain yang haus serta mengobati yang terluka. Atau barangkali, engkau akan sendirian sementara aku sudah terkubur di bawah tanah, maka inilah nasehat seorang prajurit untuk komandannya: Jadilah sedekah jariyah (yang terus mengalir pahalanya) buat ayahmu dan anak sholeh yang mendoakanku, wahai Sholeh. Sebab tidak ada lagi setelah mati bagi seorang hamba selain itu, sebagaimana disabdakan oleh manusia pilihan, Muhammad SAW.

Ini saja, tak lupa aku memohon kepada robb semua manusia, agar menjagamu untuk menjadi orang yang berkhidmad buat agama ini di manapun kamu berada, memberikan anugerah agungnya kepadamu, tidak memberi kesempatan musuh-musuh Alloh untuk menangkapmu, tidak melebihkan keutamaan dan pemberian orang lain di atas yang diberikan kepadamu, dan memberimu rezeki berupa kesyahidan di jalan-Nya, sehingga engkau bisa memberi syafaat buat ayahmu, ibumu, dan orang-orang miskin.

Semoga Alloh membekalimu dengan ilmu dan kekuatan untuk menghadapi orang-orang kafir. Allohu Akbar!

Ayahmu, Khothob.

Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah , dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya . Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.

Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik ,daripada penyegeraan istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva. semua hati rindu kepadanva. dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami-suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika la diberi penjelasan tentang dunia.

Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya.

ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.

Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.

Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.

Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.

Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.

Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.!

Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khaya lannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya.

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!

Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.

Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.

Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya.

Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta’ala menjauhkan dunia dari orang-orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya.

Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu di perutnya karena saking laparnya.

Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.

Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’

Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.

Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.

Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.

Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri.

Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.

Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.

Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?

Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya.

Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa.

Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya?

Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, Ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada di dalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.

Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.

Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.

Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.

Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.

Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku. Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir. Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!.

Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!.

Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.

Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..

Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.

Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.

Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.

Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M ,Penerjemah: Fadhli Badri Lc,Pustaka Azzam cet 1. 1420 H/ 1999 M. ( Halaman 36-41)

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.