Serombongan orang dari Yatsrib bergerak menuju Makkah, ada kerinduan dalam hati mereka untuk berjumpa dengan sosok manusia yang mereka cintai, ada janji untuk bertemu yang mendorong semangat mereka, janji untuk berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terbayang dalam benak mereka saat meletakkan tangan diatas tangan Rasulullah yang mulia untuk berbai`at kepadanya.
Diantara mereka ada seorang pemuka kabilah yang tengah beranjak tua, ia mengajak anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil, sembilan anak perempuannya ditinggalkannya di Yatsrib. Ia memang tidak memiliki anak laki-laki selainnya. Orang tua ini ingin anaknya menyaksikan bai`at dan tidak kehilangan moment yang agung dan penuh berkah itu. Abdullah ibn Haram Al-Anshari Al-Khazraji radhiyallahu `anhu, demikian nama laki-laki mulia ini dan anaknya adalah Jabir ibn Abdillah Al-Anshari Al-Khazraji radhiyallahu anhu. Keimanan bersinar di hati Jabir kecil, cahaya iman telah merasuk keseluruh relung hatinya yang masih bersih dan tumbuh kokoh dalam dirinya, hati sahabat yang mulia ini telah terpaut dengan cintanya kepada Rasulullah sejak dini.
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, anak kecil ini sudah berguru kepada beliau, ia menjadi salah seorang yang lulus dari madrasah nubuwwah sebagai mujahid, penghafal alqur`an dan perawi hadis-hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Jabir ibn Abdillah tidak ikut serta dalam perang badr dan perang uhud bersama Rasulullah karena pada saat itu ia masih terlalu kecil. Ayahnya juga memerintahkannya untuk tinggal bersama 9 orang saudara perempuannya karena dia-lah satu-satunya laki-laki yang bisa membantu urusan keluarga. jabir dikenal sebagai sosok yang sangat taat kepada ayahnya.
Ya Allah anugrahkan kami anak-anak yang taat laksana sahabat RasulMu yang mulia ini..
Menjelang perang uhud, Abdullah ibn Haram memanggil putranya jabir seraya berkata :” wahai anakku, aku bermimpi bahwa aku adalah sahabat Rasulullah yang pertama kali mendapatkan syahid aku bahkan tidak meninggalkan sesuatu yang paling berharga untuk kalian selain diri Rasulullah, ayah memiliki hutang, lunasilah hutang itu dan berikan wasiat yang baik kepada saudara-saudaramu”.
Saat peperangan berkecamuk, sesuai dengan mimpinya, yang pertama kali terbunuh diantara dua pasukan adalah Abdullah ibn Haram radhiyallahu anhu, ketika debu-debu pertempuran mulai sirna terlihat Jabir sedang mengangkat baju dari jasad ayahnya, setelah janazah sahabat yang mulia itu dikuburkan, Jabir mendatangi Rasulullah sambil berkata :” Ya Rasulallah, ayahku meninggalkan hutang kepada kami, tak ada sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melunasinya kecuali pohon korma yang telah berbuah, jika aku hanya mengandalkan itu butuh waktu lama untuk melunasinya, apalagi pohon itu juga satu-satunya yang menjadi sumber nafkah keluarga kami”.
Rasulullah yang mulia beranjak pergi ketempat penyimpanan korma milik Jabir, beliau berkata :” panggil orang-orang yang punya piutang dengan ayahmu”
Maka Jabir memanggil mereka, sementara Rasulullah terus saja menakar sehingga Allah menlunasi semua hutang ayahnya dengan korma itu. “ subhanallah, aku melihatnya tidak berkurang sedikitpun, aku melihatnya tetap seperti sebelum korma itu ditakar”. Cerita Jabir pehuh rasa takjub
Sejak ayahnya meninggal, putra Abdullah ibn Haram yang shalih ini tak pernah melewatkan satu peperanganpun bersama Rasulullah, ia banyak mengalami berbagai peristiwa yang kemudian ia riwayatkan dan salah satunya adalah pada hari-hari menjelang perang khandaq [ insya Allah saya akan menyusulkannya dengan note tersendiri]
Nun jauh beberapa puluh tahun kemudian, Jabir berangkat untuk berjihad melawan pasukan rumawi, saat itu pasukan kaum muslimin dipimpin oleh seorang komandan yang bernama Malik ibn Abdillah Al-Khatsami, pada saat sang komandan berkeliling ditengah pasukannya ia berjumpa dengan Jabir ibn Abdillah yang sedang berjalan kaki menuntun keledainya.
Komandan bertanya :” apa yang terjadi ya Aba Abdillah? Kenapa anda tidak menungganginya, padahal Allah memberikan kemudahan padamu dengan punggungnya yang dapat meringankan bebanmu”.
Sahabat yang mulia ini menjawab :” aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :” siapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, Allah akan mengharamkan neraka baginya”.
Malik-pun meninggalkannya setelah Jabir menjelaskan alasannya. Besok paginya, Malik muncul mendahului para mujahidin, dengan suara lantang ia memanggil : “ Ya Aba Abdillah, kenapa engkau tidak menunggang keledaimu padahal itu milikmu?”
Jabir mengerti maksud sang komandan, ia menjawab dengan suara yang tak kalah lantang : “ karena aku mendengar Rasulullah bersabda :” siapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, Allah akan mengharamkan neraka baginya”.
Mendengar apa yang dikatakan Jabir, maka para prajurit segera berlompatan dari hewan tunggangan masing-masing, karena semua ingin mendapatkan ganjaran yang sangat besar ini.. Subhanallah Allahu Akbar. Diriwayatkan, tidak ada pasukan dengan jumlah pejalan kaki lebih banyak dari pada pasukan itu. lihatlah, pantas Allah menurunkan pertolongan dan kemenangan kepada mereka, kita lihat bagaimana orang-orang yang mulia bersikap terhadap sabda Nabinya, tidak ada seorangpun yang menganggap remeh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Dialah Jabir ibn Abdillah Al-Anshari radhiyallahu anhu, betapa beruntung beliau karena ia berbai`at kepada Rasulullah yang mulia di usia yang masih belia bahkan belum baligh, ia berguru kepada manusia terbaik sejak kuku-kukunya masih halus, ia juga meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah yang banyak dinukil oleh para perawi hadis, berjihad bersama Rasulullah dan dialah yang menebarkan debu ke kakinya di jalan Allah saat usianya telah senja.
Jabir adalah mufti Madinah di zamannya, menyaksikan bai`at aqabah bersama ayahnya, ikut dalam perang khandaq, ikut serta dalam bai`at ridwan, menyaksikan perjanjian hudaibiyah, ia berkata :” Rasulullah bersabda kepada kami saat perjanjian hudaibiyah :” kalian semua saat ini adalah penduduk bumi yang terbaik”. Jumlah kami saat itu sekitar 1400 orang.
Jabir ibn Abdillah wafat pada tahun 78 hijrah dalam usia 94 tahun.
Radhiyallahu anhum ajma`iin
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150114018205325